Kamis, 6 Oktober 22

BAS Sebut Dakwaan Jaksa Keliru, GMNI Nilai Walikota Bogor Lecehkan Hukum

BOGOR – Besok, sidang lanjutan kasus dugaan penggelembungan pembelian lahan Pasar Jambu Dua kembali akan digelar dengan agenda eksepsi (keberatan dengan suatu alasan) di Pengadilan Tipikor, di Pengadilan Tipikor, Jalan RE Martadinata No. 74-80, Bandung. Pada sidang perdana sebelumnya, dalam penyampaian dakwaan jaksa, nama Walikota Bogor Bima Arya Sugiarto (BAS) berulangkali disebut dalam dakwaan setebal 92 halaman.

Namun, hal itu juga langsung dibantah Walikota Bogor Bima Arya. Kepada beberapa awak media, BAS mengatakan penyebutan namanya dalam surat dakwaan kasus mark up lahan Jambu Dua itu sebagai bentuk kekeliruan. Pernyataan Walikota Bogor itu kontan disikapi Ketua GMNI Bogor Raya, Desta Lesmana. Ia menilai pembacaan dakwaan jaksa yang ditanggapi Bima Arya karena menyebut namanya dengan sebutan kekeliruan sebagai bentuk kepanikan. Lebih dari itu, Desta juga menuding Bima Arya telah melecehkan penegakan hukum dengan melakukan upaya pembentukan opini publik untuk cuci tangan.

“Statement Walikota Bogor yang mengatakan bahwa dakwaan jaksa salah di beberapa media terkait munculnya nama Bima Arya Sugiarto atau yang diinisialkan sebagai BAS dalam surat dakwaan merupakan pelecehan penegakan hukum,” tukasnya saat diwawancarai indeksberita.com, Selasa (7/6/2016).

Lebih lanjut, dia mengatakan, pada persidangan kasus penggelembungan pembelian lahan Jambu Dua, Bima Arya selaku walikota telah terang-terangan menebar kesan seolah kejaksaan tidak profesional.

“Kami menyatakan protes, pembelaan diri yang dilakukan Bima Arya. Kami,  GMNI Bogor Raya menilai sikap Walikota Bogor tidak elok dan tidak menunjukan sikap kepemimpinannya dalam memerangi korupsi serta pengusutan tuntas kasus korupsi skandal Jambu Dua,” tandasnya.

Ditegaskan Desta, seharusnya Bima, lebih menghormati proses hukum yang sedang berlangsung. Bukan malah menuding jaksa membuat kesalahan dan membentuk opini.

“Kami mendukung kejaksaan supaya mengusut tuntas kasus Angkahong Gatesatau skandal dugaan mark up Jambu Dua sampai ke akar-akarnya,” kata Desta.

Sayangnya, Walikota Bogor, Bima Arya Sugiarto saat akan ditemui di Balaikota Bogor diketahui sedang tidak berada di tempat. Telepon genggamnya tidak bisa dihubungi saat akan dimintai komentar.

Sebagaimana diketahui, dalam sidang di Pengadilan Tipikor Bandung, Senin (30/5/2016) terdahulu, nama Walikota Bogor Bima Arya berulangkali disebut dalam pembacaan dakwaan kasus dugaan korupsi pembebasan lahan seluas 7.302 meter persegi di Pasar Induk Warung Jambu, Kota Bogor. Kasus ini sendiri sudah berujung pada penangkapan tiga pejabat Pemkot Bogor, yakni Hidayat Yudha Priatna (HYP), Irwan Gumelar (IG), dan Roni Nasru Adnan (RNA). Fakta persidangan mengungkap jika orang nomor satu di Kota Bogor itu terlibat aktif dalam tawar menawar harga hingga muncul angka Rp43,1 miliar. (eko)

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait