Jumat, 30 September 22

Banten harus Bebas dari Dinasti Kekuasaan Lama yang Korup

Tangerang – Calon Wakil Gubernur Banten Andika Hazrumy menjadi titik lemah dalam pasangan Gubernur Wahidin Halim di Pilkada Provinsi Banten. Pasalnya, Andika bagian dari dinasti kekuasaan lama. Ia adalah anak dari mantan Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah yang terjerat kasus korupsi.

“Salah satu titik lemah dari pasangan Wahidin Halim tadi adalah Andika. Orang sulit memisahkan Andika ini jadi bagian ‎keluarganya Atut. Itu yang sangat sulit dipisahkan,” ujar pengamat politik UIN Jakarta, Adi Prayitno, saat diskusi yang digelar oleh Sekber Banten di Tanggerang, Sabtu (29/10).

Adi melihat persoalan apakah Andika itu bersih atau tidak merupakan soal lain.

“Orang melihat Andika ini anaknya Bu Atut yang pernah berkuasa di Banten cukup lama dan destruktif,” ujarnya.

Kendati demikian, Adi tetap mengembalikan segala penilaiannya ke publik, meskipun menurutnya, Banten harus bersih dari korupsi dan menghindari anasir-anasir calon pemimpin yang memiliki indikasi ataupun yang bersinggungan dengan muka-muka lama yang pernah terjadi di Banten.

“Tapi biarlah publik yang menilai, tapi menurut saya biar Banten korupsinya bersih, biar Banten pembangunannya maju,” tutup Adi.

Di tempat yang sama, Ketua Umum Sekretariat Bersama Rakyat (Sekber), Mixil Mina Munir mengatakan dinasti politik di Banten harus dimusnahkan. Apalagi, dalam hal ini yang akan melanjutkan estafet dinasti di Banten, merupakan anak dari mantan terpidana kasus korupsi yang telah divonis oleh KPK.

“Politik dinasti di Banten harus dihentikan, masyarakat juga sudah sangat rasional dan dikecewakan oleh politik dinasti hari ini yang ada di Banten,” kata Mixil.

Selain itu, Mixil mengajak masyarakat Banten untuk menjaga keamanan dan ketertiban pada pilkada Banten 2017, dengan tidak melakukan money politik dan isu sara.

“Jalani pesta demokrasi dengan baik, hindari politik uang dan isu SARA,” tandasnya.

Seperti diketahui, Andika Hazrumy adalah anak mantan Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah yang telah divonis dua kasus korupsi yakni suap sengketa Pilkada Lebak dan kasus dugaan korupsi pengadaan alat kesehatan di Provinsi Banten.

Atut menyuap Rp 1 miliar ketua Mahkamah Konstitusi saat itu, Akil Mochtar melalui advokat Susi Tur Andayani. Dia divonis tujuh tahun penjara.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait