Sabtu, 3 Desember 22

Aung San Suu Kyi dan Indonesia

Beberapa kawan bertanya kepada saya, kok saya tak bergabung ikut tanda tangan petisi di Change.org untuk mencabut Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi dari Burma yang diperoleh pada 1991. Petisi itu dibuat menyusul sikap Suu Kyi yang diam seribu bahasa dalam masalah Rohingya. Terakhir soal komentar di luar wawancara resmi dengan sebuah media internasional. Maaf kali ini saya tak sependapat dengan sebagian nama-nama besar yang saya kenal. Semoga tulisan ini bisa menjawab.

Dalam sebagian perjalanan hidup saya, saya pernah bersinggungan dengan tiga tokoh besar nasional maupun internasional. Saya sempat beberapa bulan satu asrama dengan Xanana Gusmao di sebuah perguruan tinggi bernama Universitas Cipinang (1996). Sempat belajar demokrasi (dan humor) bersama KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur di sebuah forum bernama Forum Demokrasi (Fordem), 1990an. Dan, saya pernah aktif di Koalisi Sipil Masyarakat Sipil untuk Burma (KMSuB) sekaligus pernah dipercaya sebagai wakil ALTSEAN (Alternative ASEAN for Burma) di Jakarta (2003-2008). Organisasi solidaritas untuk demokrasi di Burma ini berpusat di Bangkok.

Dalam sejarah, ada beberapa pejuang kemerdekaan yang gagal menjadi kepala pemerintahan. Soekarno bisa disebut di sini. Siapa yang meragukan kepahlawanan Soekarno yang mengatarkan bangsa ini merdeka? Soekarno dan Hatta tak tergantikan. Mereka adalah proklamator kemerdekaan Indonesia. Namun, pada 1959 sampai 1965 Soekarno tergelincir menjadi penguasa antikritik. Sejumlah lawan politik dipenjara, pers dibredel, bahkan Koes Plus pun dikurung di dalam bui. Apakah kebanggaan saya terhadap Soekarno berkurang? Tidak. Sama sekali tidak.

Gus Dur juga begitu. Siapa yang meragukan perjuangan demokrasi Gus Dur? Siapa yang mempertanyakan perjuangan untuk keberagaman Gus Dur? Tak ada. Namun ketika pada akhir masa jabatan, kyai presiden ini mengeluarkan dekrit pembubaran parlemen. Sebuan tindakan yang dinilai sangat tidak demokratis saat itu. Tapi apakah kebanggaan saya kepada Gus Dur luntur karena dekrit itu? Tidak sama sekali. Saat itu bahkan saya bersama kalangan aktivis berada di istana mendukung Gus Dur (seumur-umur berada di istana ya saat itu hehehe). Sampai saat ini saya tetap setia kepada Gus Dur dan pemikirannya: In Gus (Dur) We Trust!

Satu lagi, nah ini agak sedikit berbeda, Adnan Buyung Nasution. Sampai beliau meninggal dunia, banyak orang tetap menyebut pengacara tersebut pejuang HAM. Bagi saya, sejak ABN membela Wiranto dan para jendral lainnya yang dituduh melanggar HAM di Timor Leste, beliau tak pantas lagi sebagai pejuang HAM. Tetapi saya tetap menghormati beliau sebagai pengacara yang hebat di Indonesia. Beliau adalah Bapak Bantuan Hukum dan Demokrasi di Indonesia.

Kini mari bicara soal Suu Kyi. Saya pernah bertemu putri Jendral Aung San – pejuang kemerdekaan Burma – pada acara Simposium Pendidikan yang diadakan partainya NLD (Liga Nasional untuk Demokrasi) di Rangoon, Burma, pada tahun 2000. Pada tahun-tahun itu (hingga isu Rohingya mendunia), hanya segelintir orang Indonesia berbicara tentang demokrasi di sana. Bahkan Burma letaknya di mana juga sedikit yang mengerti. Ketika itu Suu Kyi berkata kepada saya, “Junta militer kami meniru militer Indonesia termasuk soal Dwi Fungsi tentara. Kami ingin rakyat kami belajar kepada rakyat Indonesia yang berhasil menurunkan rezim tentara.”

Saya sangat berbahagia ketika pada akhirnya NLD menang pemilu dan militer mengakui kemenangan itu. Ini berbeda pada pemilu 1990 saat NLD menang, tetapi junta militer tak mengakui, malah sebagaian besar tokoh NLD termasuk Suu Kyi dipenjara. Transisi demokrasi di sana berjalan lumayan mulus meski bayang-bayang tentara tetap ada. Juga, Suu Kyi sebagai ketua partai tetap tak bisa menjadi presiden. Dunia menyaksikan transisi demokrasi terjadi di sana, dan sejarah itu sedang berlangsung. Dunia berharap transisi berjalan mulus.

Nah kenapa tiba-tiba seluruh mata (terutama di Indonesia) menyorot Suu Kyi? Maaf sedikit saya ajak ke Tolikara, Papua lebih dulu. Di Papua sering terjadi rakyat mati dibunuh tentara dengan berbagai alasan, namun tak ada berita heboh secara nasional. Tapi begitu ada mushola kecil terbakar, seluruh mata dan telunjuk Indonesia mengarah ke Tolikara. Rupanya mushola lebih berharga dari nyawa orang Papua. Sama seperti soal Papua, begitu juga soal Burma. Siapa yang peduli penindasan yang dilakukan junta militer Burma terhadap rakyatnya, sampai muncul isu Rohingya.

Saya tentu saja menyesalkan sikap Suu Kyi terhadap Rohingya. Karenanya, saya menganggap Suu Kyi kini hanyalah seorang politisi. Sebagai politisi dia selalu menjaga pernyataannya. Ia tak ingin kehilangan dukungan masyarakat yang mayoritas pemeluk Budha. Itulah politisi. Nah cukup jelas. Saya tak ingin mendukung petisi cabut hadiah Nobel Perdamaian untuk Suu Kyi. Saya juga tak akan menuduh dia rasis apalagi fasis. Bagi saya, panas sehari tak bisa menghapus hujan setahun. Saya mengetahui betapa sulitnya dia menghadapi tentara di sana.

Sekali lagi, Soekarno tak ada duanya. In Gus I Trust. Untuk Suu Kyi, dulu ia berpesan kepada dunia, “Please use your freedom for us,” kini, saya berpesan untuknya, “Please use your power for Rohingya!”

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait