Selasa, 5 Juli 22

Aris Riyanta: Pariwisata DIY Berani Tantang MEA

Yogyakarta – Berlakunya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) sejak awal tahun ini memberikan tantangan baru bagi sektor pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Adapun tantangan tersebut bisa atau tidaknya terjawab juga ditentukan oleh kesiapan sektor pariwisatanya baik dalam mengelola, hingga berani atau tidaknya dalam menentukan target.

Ditemui di kantor Dinas Pariwisata DIY Jl. Malioboro Kota Jogjakarta (27/01), Aris Riyanta selaku kepala dinas menjelaskan bahwa terdapat kenaikan kunjungan wisatawan bahkan melebihi dari target yang telah ditentukan. Untuk Wisatawan mancanegara sebesar 15% dan nusantara sebesar 25% dari tahun 2013 menuju 2014. Target yang telah direncanakan oleh dinas pariwisata justru 10% untuk wisatawan mancanegara dan 15% wisatawan nusantara. “Untuk 2016 tetap kita naik (red-meningkatkan target), harus naik. Orang marketing (pemasaran) harus gitu toh”, jelas Aris.

Dalam Buku Statistik Kepariwisataan DIY tahun 2014 yang diterbitkan oleh Dinas Pariwisata, data kumulatif perbandingan wisatawan mancanegara pada tahun 2013 mencapai 235.893 dan tahun 2014 mencapai 254.213. Sedangkan wisatawan nusantara pada 2013: 2.602.074 dan 2014: 3.091.967. Sedangkan data statistik kepariwisataan pada tahun 2015 sedang diakumulasikan dan akan diterbitkan pada Juni 2016 nanti.

IMG-20160201-WA0000

Untuk kesiapan Dinas Pariwisata DIY dalam meningkatkan jumlah wisatawan pada tahun ini, Aris telah menjawabnya dengan 3A, yaitu: (1) accessibility yaitu “akses” masuk ke DIY dengan cepat dan mudah, (2) attraction yaitu “daya tarik” dari DIY yang dapat dijual dan (3) amenities yang berarti ”fasilitas” yang dapat dimanfaatkan oleh wisatawan nusantara maupun mancanegara, juga kerjasama dengan beberapa lembaga yang berfungsi dalam memenuhi dinamika kebutuhan para wisatawan, layaknya Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia, Himpunan Pariwisata Indonesia, Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia dan termasuk pengelola Desa Wisata.

Dalam menjawab pertanyaan “MEA: Malaikat atau Monster?”, Aris menjawabnya dengan tantangan yang harus dihadapi. “Orang bisa mengatakan bahwa ini adalah ancaman. Justru ini adalah peluang untuk tertantang. Tertantang untuk meningkatkan diri, dalam hal membenahi dan meningkatkan kepariwisataan”, pungkas Aris.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait