Kamis, 11 Agustus 22

Andrianto: Agus Memiliki Semua Permodalan yang Dibutuhkan Warga Jakarta

Konfigurasi peta kekuatan kandidat dalam pilkada DKI sudah berubah, minimal untuk saat ini. Hal ini terlihat dari beberapa survey yang dilakukan oleh beberapa lembaga survey. Contohnya hasil survey Indikator Politik, yang dilansir oleh direktur eksekutifnya Burhanuddin Muhtadi di Cikini-Jakarta Pusat, minggu lalu (24/11/2016), pasangan Ahok-Djarot bahkan sudah melorot ke urutan ke dua, tidak menempati posisi teratas lagi.

Besaran elektabilitas dalam survey Indikator Politik tersebut, menunjukan bahwa Pasangan Agus-Sylvi berada di posisi teratas dengan elektabilitas 30,4%. Sedangkan pasangan Ahok-Djarot berada di posisi ke 2 dengan tingkat elektabilitas 26,2%, dan pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno berada di posisi terbawah dengan elektabilitas 24,5%.

Survey lain yang dilakukan Lingkar Survey Indonesia, menunjukan hasil yang tidak jauh beda. Dan faktor utama penyebab turunnya elektabilitas Ahok-Djarot, adalah kasus dugaan penistaan agama yang menimpa Ahok. Kejadian di Kepulauan Seribu, di akhir September lalu, yang kemudian berbuntut menjadi hinggar-binggar politik. Hal ini kemudian yang membuat resistensi pemilih terhadap pemimpin beda agama, menjadi lebih tinggi. Hasilnya, pemilih Muslim yang tidak bersedia dipimpin oleh gubernur non-Muslim sebesar 63,4 persen. Ini meningkat 23.4% dibanding survey di bulan Maret, yang besarnya 40%. Dan tingkat kesukaan terhadap Ahok juga menurun sebesar 23% hanya dalam 1 bulan. Dari sebelumnya 71% menjadi 48%.

Sangat jelas, panasnya situasi Pilkada DKI, secara langsung atau tidak langsung, membuat elektabilitas pasangan Ahok Djarot melorot terus. Dan yang paling diuntungkan oleh tertekannya Ahok oleh hinggar binggar politik ini adalah Agus-Sylvi. Hal ini diakui oleh Andrianto, inisiator dari Kampung AS ( komunitas masyarakat pendukung Agus Sylvi).

Walau pasangan Agus-Sylvi, memperoleh keuntungan dari menurunnya elektabilitas Ahok-Djarot, tapi menurut Adrianto, itu bukan satu-satunya penyebab.

“Kontestasi kan diikuti oleh 3 pasangan. Menurunnya elektabilitas salah satu pasangan, tentu menyebabkan 2 pasangan lain meningkat. Tapi mengapa peningkatan elektabilitas Agus-Sylvi jauh diatas Anies-Sandy? Agus-Sylvi awalnya (elektabilitas awal) hanya 19%, sekarang 30%, meningkat 11%, Anies hanya naik 3.5%. Artinya ada keunggulan lain yang dimiliki oleh Agus dong” kata Andrianto.

Saat ditanya tentang keunggulan apa yang dimiliki pasangan Agus-Sylvi diluar kesantunan dan penampilan, yang biasa disebut banyak orang, menurut Andrianto pasangan Agus-Sylvi, dalam hal ini figur Agus, sudah menjadi simbol baru perubahan di DKI. Menurutnya simbol itu diraih karena Agus memiliki semua permodalan yang dibutuhkan bagi warga Jakarta.

“Agus itu sosok yg diametral dengan ahok. Sosoknya yg berlatar militer tentu bericiri tegas, sesuatu yang dibutuhkan Jakarta. Kedua, walau dia disorong parpol, tapi latar belakangnya bukan dari parpol tapi militer, paling tidak Agus tidak terkena virus parpol yg saat ini kurang dapat apresiasi publik. Dan terakhir, walau ini bisa dicap sebagai feodal tapi ini realitas yang dinilai baik oleh masyarakat. Yaitu: kakeknya Agus, Sarwo Edy sang jendral yang d segani. Ayahnya Agus itu SBY, presiden yang 10 tahun menjabat. Tentu Agus akan jaga kehormatan ini” urai Andrianto mengakhiri pembicaraan

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait