Rabu, 29 Juni 22

Andi Zakaria : Pemerintah Harus Upayakan Ekspor CPO Ke Negara-Negara Non Eropa

Kebijakan Parlemen Eropa yang akan menghapus penggunaan biodiesel dari minyak nabati pada 2030 dan dari minyak sawit, termasuk dari Indonesia, pada 2021 mendatang telah menimbulkan kegelisahan para petani sawit. Para petani terutama didaerah-daerah penghasil kelapa sawit seperti Kalimantan Utara; khawatir akan hilangnya pasar ekspor CPO ke Eropa.

Banyak pihak pun berpandangan bahwa usulan Komite Lingkungan Hidup (ENVI) Parlemen Eropa tersebut bertentangan dengan prinsip perdagangan bebas dan adil dan menjurus kepada terjadinya diskriminasi “crop apartheid” terhadap produk sawit di Eropa. Salah seorang Tokoh Perbatasan ,Andi Zakaria meminta Pemerintah tidak menganggap remeh permasalahan ini.

Menurut Andi, Pemerintah harus mampu melakukan lobi-lobi ke negara-negara selain Uni Eropa dalam ekspor CPO Sawit Indonesia. “Ini tak bisa dianggap remeh. Kebijakan Parlemen Eropa dapat mengkandaskan jalan kesejahteraan para petani sawit. Untuk itu Pemerintah mulai sekarang harus melakukan pendekatan dan lobi kepada negara selain eropa,” ujar Andi kepada indeksberita.com ,Rabu (21/3/2018).

Andi mengungkapkan, hampir sebagian besar masyarakat Kalimantan Utara adalah petani. Dan mayoritas petani tersebut adalah para petani sawit. Maka bisa dipastikan kebijakan Parlmen Eropa tersebut akan berimbas pada perekonomian rakyat di Perbatasan.

Selain itu menurut Andi, pemerintahan harus terus melakukan sosialisasi yakin dunia bahwa produk turunan CPO sawit menjadi aset kebutuhan masyarakat dunia dan menjadi jawaban atau solusi akan semakin berkurangnya minyak dunia.

Andi juga mengharap agar Pemerintah mendorong hilirisasi industri-industri turunan CPO. Karena menurut Andi, kelapa sawit sangat berbeda dengan penghasil minyak nabati lainnya, tanaman kelapa sawit mempunyai potensi yang lebih tinggi baik dari segi kuantitasnya per satuan luas, keragaman produksi secara vertikal, maupun produk sampingannya.

“Pemerintah harus mendorong berdirinya industri-industri produk turunan CPO di indonesia sehinga tdk hanya menjual minyak CPO saja. Kalau Malaysia saja mampu mengembangkan lebih dari 100 turunan CPO Sawit, kenapa Indonesia tidak?,” tandasnya.

Andi meyakini, jika Pemerintah mampu mendorong berdirinya industri-industri turunan CPO sawit seperti bahan makanan, farmasi,kecantikan dan lain sebagainya sebagaimana yang dikembangkan Malaysia, maka ketergantungan akan ekspor CPO ke dapat dipangkas.

“Dan jika Pemerintah benar-benar memvasilitasi hal tersebut, maka kemandirian ekonomi terutama di perbatasan adalah sebuah keniscayaan,” pungkas politisi Partai Bulan Bintang tersebut.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait