Selasa, 5 Juli 22

Alasan Pencopotan Bambang DH, Wakil Sekjen DPP PDI-P: Bukan karena Menolak Ahok

Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (DPP PDI-P) akhirnya membuat keputusan terkait dengan gonjang-ganjing seputar Pilkada DKI Jakarta 2017 mendatang. Namun, keputusan itu bukan tentang calon gubernur yang akan diusung, melainkan pencopotan Bambang DH dari jabatan pelaksana tugas (Plt) Ketua Dewan Pimpinan Daerah PDIP DKI Jakarta. Selanjutnya, Bambang diminta fokus sebagai Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bapilu) DPP PDI-P.

Pencopotan tersebut terjadi pada Senin (29/8). DPP PDI-P menunjuk Adi Wijaya selaku pengganti Bambang. Adi Wijaya, sebelumnya, menjabat Bendahara DPD PDIP DKI Jakarta.

Tahun ini, sudah dua kali terjadi penggantian posisi Ketua DPD PDIP DKI Jakarta. Bambang, sebelumnya, menggantikan Boy Sadikin yang mengundurkan diri pada Maret 2016 lalu.

Tak pelak, alasan dibalik pencopotan Bambang lantas dikaitkan dengan sikapnya yang dianggap terlalu vokal menolak pencalonan Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok dari PDI-P. Sikap itu, misalnya, ditunjukkan Bambang bersama sejumlah pengurus teras dan kader PDI-P lainnya lewat nyanyian ‘Ahok Pasti Tumbang’ dalam video yang beredar belakangan ini.

Namun, Bambang enggan memberi tahu alasan penggantiannya. “Waduh, ke sekretaris jenderal saja,” katanya. Ia pun tak mau menjawab ketika ditanya terkait pencopotan tersebut dengan sikapnya yang menolak jika PDIP mengusung Ahok sebagai calon Gubernur DKI Jakarta.

Bambang berdalih PDIP belum memutuskan calon gubernur yang akan didukung dalam pemilihan Gubernur DKI Jakarta tahun depan. “Soal cagub, belum ada keputusan,” ujarnya.

Lalu, apakah di bawah kepemimpinan Adi sikap DPD berubah? “No comment. Mudah-mudahan makin solid perjuangkan aspirasi warga,” tuturnya.

Menurut mantan Wali Kota Surabaya itu, sampai sejauh ini PDI-P belum mengambil keputusan. “Aku ikut saja dan laksanakan perintah (Ketua Umum),” tandasnya.

Terpisah, Wakil Sekretaris Jenderal PDI-P Ahmad Basarah menekankan tentang loyalitas Bambang DH yang sudah teruji sejak zaman PDI Pro Mega (Promeg). “Jadi dia pasti loyal ke Bu Mega,” kata Ahmad Basarah, dalam keterangan, Selasa, 30/8.

Menurut Basarah, pergantian Bambang DH dari jabatanya sebagai Ketua Plt PDI Perjuangan DKI Jakarta kepada Adi Wijaya, adalah karena tugas utama Bambang sebagai Ketua DPP PDI Perjuangan bidang Pemilu harus fokus mengurus 101 Pilkada serentak 2017 di seluruh Indonesia dengan target kemenangan dipatok sebesar 50 persen.

“Di samping itu, jabatan Ketua Plt DKI yang diembannya sudah lebih dari tiga bulan, sementara menurut ketentuan partai, jabatan Ketua Plt tidak boleh lebih dari tiga bulan,” jelas Basarah.

Terkait isu bahwa pencopotan Bambang seiring dengan penolakannya terhadap Ahok untuk dicalonkan menjadi Gubernur DKI Jakarta, Basarah menegaskan bahwa penolakan Bambang DH terhadap Ahok bukan bentuk pembangkangan terhadap Megawati Soekarnoputri selaku Ketua Umum PDI-P.

“Hal ini dilakukan karena faktor kekecewaan kalangan kader dan pengurus partai di DKI Jakarta yang sudah menggumpal, sebagai reaksi terhadap sikap Ahok yang sudah berkali-kali melecehkan eksistensi PDI Perjuangan. Sikap Bambang ini hanyalah sebagai artikulator keresahan pengurus dan kader partai di DKI Jakarta yang dia pimpin sebagai Plt Ketua DPD PDI Perjuangan Jakarta,” tutur Basarah.

Dengan demikian, tegas Basarah, opini dan pendapat yang mengatakan pergantian Bambang DH karena menolak Ahok, tidak tepat. Apalagi semua kader dan pengurus PDI Perjuangan DKI Jakarta, termasuk Bambang DH, akan tetap setia menunggu keputusan resmi Megawati Soekarnoputri.

“Berbagai dinamika politik partai kami di Jakarta terkait dengan Pilkada, termasuk soal penolakan terhadap Ahok, adalah dinamika dan dialektika politik yang wajar dalam tradisi PDI Perjuangan sebagai partai penganut madzhab demokrasi terpimpin yang menjaga disiplin hirarki kepemimpinan organisasi,” kata Basarah.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait