Minggu, 14 Agustus 22

Akibat Warga Buang Sampah Saat Melintas Jembatan, 80 Persen Kali Surabaya Tercemar Popok

Sampah di Kali Surabaya mulai dari plastik, popok hingga sampah organik mulai banyak ditemukan. Survei yang dilakukan Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) atau Lembaga Konservasi Lahan Basah, bahwa di Kali Surabaya sudah tak sedikit sampah mengotori perairan sungai tersebut.

Direktur Ecoton Prigi Arisandi mengatakan, bersama tim yang ia bentuk, telah melakukan survei di sepanjang kali Surabaya. Survei itu dimulai dari Kecamatan Wringinanom hingga Kecamatan Bambe Kabupaten Gresik.

“Mulai dari kemarin (Kamis) kami melakukan survei di sepanjang kali Surabaya ini. Hasilnya 80 persen kali ini dipenuhi popok, “ kata Prigi, Jumat, (7/7/2017).

Masih kata Prigi, survei yang didahului dengan proses transek atau penelitian terhadap timbunan sampah. Itu ia lakukan di Waru Gunung Surabaya, yang dilintasi Jembatan Karangpilang 1 dan Karangpilang 2.

Selain itu, transek juga dilakukan di kawasan Jagir dan Kayun Surabaya. Saat melakukan transek di kawasan ini, ditemukan ada 43 persen sampah di pinggiran sungai adalah rata-rata sampah plastik. Terdapat 37 persen adalah popok dan 7 persen lainnya sampah organik, serta 13 persen adalah sampah, seperti bola lampu, pakaian, ranting, kayu dan lain-lain.

Melihat kenyataan ini, Prigi menyampaikan, akan berkirim surat ke  Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Surabaya dan memberikan barang bukti sampah-sampah tersebut.

“Ini kami lakukan, supaya pemerintah percaya dan dan ada tindak lanjut dan melakukan proses pembersihan Kali Surabaya dari banyaknya limbah popok di sungai, “ ujar Prigi.

Ia juga mengatakan, pemerintah juga harus proaktif dan menyarankan kepada produsen popok, agar melampirkan peringatan tentang bahaya membuang popok sembarangan. Ini dilakukan masyarakat pengguna popok tidak membuang ke sungai.

“Coba kita cermati, seperti popok bayi mengandung mikroplastik serta bakteri dari kotoran bayi yang menempel dalam popok akan meningkatkan pencemaran e-coli. Padahal Kali Surabaya selama ini menjadi bahan baku air minum dan habitat bagi 25 spesies ikan,” terang Prigi.

Mengenai bahayanya popok ini, peneliti senior Ecoton Riska Darmawanti juga menyampaikan, bahwa popok yang sifatnya sekali pakai untuk bayi, tentu sangat bahaya bagi lingkungan.

“Termasuk cukup berbahaya jika dibuang di perairan sungai, “ kata Riska.

Ia pun melogikakan, setiap hari bayi pemakai popok harus ganti popok setiap tiga jam. Ini menujukkan setiap hari bayi harus ganti lima hingga enam popok. Meski yang terjadi banyak ibu-ibu mengganti popok terhadp bayinya maksimal 2 kali.

“Cara ini bertujuan cuma ngirit kebutuhan saja. Padahal kalau kita ketahui, popok yang berisi kotoran bisa menginveksi saluran kencing, lagi pula juga bisa mengiritasi kulit bayi karena dalam popok terdapat senyawa yang menyerap kelembaban kulit,” ujar Riska.

Selanjutnya ia menjelaskan, bahwa dalam popok terdapat senyawa dioxin dan phtalat, jika senyawa ini melebur dalam air akan mengakibatkan pencemaran.

“Sodium poliakrilat yang kita ketuhui SAP. Banyak digunakan dalam popok dihasilkan dari minyak bumi sehingga dikhawatirkan mengandung senyawa toksin. Selain itu, SAP seringkali dihubungkan dengan sindrom keracunan. Yang kita kenal Toxic Shock Syndrome, “ jelas Riska.

Sebenarnya sudah menjadi rahasia umum, kegiatan membuang sampah oleh warga saat melintas di jembatan menjadi pemandang sehar-hari. Itu terjadi karena tidak ada ketegasan dari pihak pemerintah, sehingga budaya ini seolah menjadi biasa yang dilakukan warga.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait