Jumat, 2 Desember 22

Akankah Happy Ending di Kalijodo?

Pembongkaran

Dalam dunia pers masih dikenal istllah “bad news is good news”. Akhir cerita hiruk-pikuk Kalijodo tampaknya akan berakhir dengan happy ending. Penggusuran bangunan tempat hiburan malam ini akan berlangsung mulus, tanpa perlawanan. Inikah yang tak diharapkan para awak media?

Kebijakan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengembalikan kawasan Kalijodo menjadi Ruang Terbuka Hijau (RTH) mendapat dukungan dari berbagai pihak meski dengan alasan yang berbeda. Pihak kepolisian mendukung Ahok karena mengangap Kalijodo adalah biang terjadinya kriminalitas. Kasus kecelakaan yang menelan korban bermula dari pengemudi kendaraan itu minum-minum di kawasan ini. Sebagian partai di DPRD DKI dan MUI juga mendukung Ahok dengan alasan Kalijodo adalah sumber maksiat. Prostitusi harus diberantas di Jakarta.

Kini, banyak warga Kalijodo yang berKTP Jakarta mulai mendaftar untuk menempati Rumah Susun yang disiapkan Pemda DKI. Warga lain yang tak berKTP Jakarta tahu diri. Mereka terpaksa pulang kampung. Ada yang sukses tentu ada yang belum beruntung. Yang sukses, ada seorang ibu yang belasan tahun berusaha di bidang prostitusi, ia kini pulang kampung ke Kaliurang Yogyakarta. Di daerah asal ia telah memiliki rumah dan ribuan meter tanah dan sawah.

Tentang Daeng Azis yang kini menjadi sumber berita, tampaknya akan berujung pada status tersangka untuk tokoh warga Kalijodo ini. Berbagai sangkaan siap disematkan polisi kepada pengusaha hiburan malam ini. Dari soal pencurian listrik milik PLN sampai perdagangan orang atau menjalankan bisnis prostitusi ilegal.

Jika Daeng Azis bisa dijinakkan, warga berduyun-duyun mendaftar pindah ke rumah susun, maka kekerasan atau perlawan saat penggusuran di Kalijodo tak bakal terjadi. Para wartawan tak bakal mendapat gambar berdarah-darah atau tangisan warga. Tak ada perang batu seperti perlawanan warga Kampung Pulo di Jatinegara saat digusur. Para pengacara akan kehilangan klien yang harus dibela. Dan para bakal calon gubernur bakal kehilangan panggung di Kalijodo.

Jika media masih mengutamakan “bad news is good news” maka sesungguhnya media itu merupakan media yang ketinggalan zaman. Karena zaman sekarang bisa juga “good news is good news”. Masyarakat yang sadar bahwa selama ini melanggar hukum dan suka rela pindah dari tanah bukan miliknya adalah “good news”. Seperti suksesnya Jokowi-Ahok mendandani Waduk Pluit dan Ria Rio serta merevitalisasi beberapa anak sungai di Jakarta. Ini adalah serangkaian “good news” yang patut diberitakan ke publik.

Kalijodo ternyata telah menghidupi banyak mucikari dan PSK dan menghibur ribuan pria hidung belang selama puluhan tahun. Di tangan Ahok, saat Kalijodo menjelang redup, rupanya ada beberapa orang mencoba mengambil untung darinya, di antaranya pengacara, politisi dan sebagian media.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait