Senin, 26 September 22

Akademisi Nilai Sistem Full Day School Tidak Tepat

Belum lama menjabat, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy sudah memicu kontroversi. Gagasannya untuk menerapkan sistem Full Day School (FDS) selain menuai pro dan kontra di kalangan masyarakat, juga dinilai sejumlah pihak tidak tepat dan terburu-buru.

Pengamat sekaligus Dosen Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka Jakarta (Uhamka) Elin Driana mengatakan, Program Full Day School yang digagas oleh Kemendikbud ini terlalu cepat dilontarkan ke publik. Dirinya pun tidak setuju dengan program tersebut.

“Saya tidak yakin apakah sudah didasarkan pada kajian-kajian ataupun penelitian-penelitian,” kata Elin saat di hubungi oleh indeksberita.com di Jakarta, Selasa (9/8).

Menurut Elin, Full Day School bukanlah isu prioritas dalam visi pendidikan Presiden Joko Widodo dan Kemendikbud, apalagi dalam kaitannya dengan peningkatan mutu pendidikan, termasuk pembentukan karakter siswa.

Yang harus menjadi prioritas, menurut Elin, pemerintah harus mengutamakan pemerataan pendidikan berkualitas di seluruh Tanah Air yang hingga saat ini masih mengalami kesenjangan, memastikan semua anak mendapatkan layanan pendidikan yang bermutu, dan menelaah serta mensinkroninasi berbagai regulasi yang dikeluarkan oleh Kemendikbud agar tidak tumpang tindih.

“Dan tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip dan konsep-konsep pendidikan serta memastikan gerakan-gerakan dan kebijakan-kebijakan yang tepat di masa Pak Anies, tetap dilanjutkan,” katanya.

Selain itu, dengan alasan pemerintah agar bisa menyesuaikan jam kerja juga tidak tepat, karena tidak semua orang tua bisa menjemput anaknya meskipun Full Day School ini telah di terapkan. Karena masalah jarak, waktu, tempuh dan kemacetan.

“Kondisi tiap daerah juga berbeda-beda. Ada daerah yg sulit dijangkau dan tidak semua orang tua dua-duanya bekerja, ada juga orang tua yang salah satunya tinggal di rumah dan ingin mendidik anaknya juga, karena pendidikan yang utama di rumah,” tambahnya.

Menurut Elin, Akan banyak dampak-dampak negatif baik bagi siswa, guru, sekolah dan orang tua bila program Full Day School ini dipaksakan. “Juga masalah-masalah yang timbul bila dipaksakan,” pungkasnya.

Seperti diketahui, Mendikbud Muhajir Effendy menggagas sistem “full day school” untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun swasta. Alasannya agar anak tidak sendiri ketika orangtua mereka masih bekerja.

“Dengan sistem full day school ini secara perlahan anak didik akan terbangun karakternya dan tidak menjadi liar di luar sekolah ketika orangtua mereka masih belum pulang dari kerja,” kata Mendikbud di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Minggu (7/8).

Menurut dia, kalau anak-anak tetap berada di sekolah, mereka bisa menyelesaikan tugas-tugas sekolah sampai dijemput orangtuanya seusai jam kerja. Selain itu, anak-anak bisa pulang bersama-sama orangtua mereka sehingga ketika berada di rumah mereka tetap dalam pengawasan, khususnya oleh orangtua.

Untuk aktivitas lain misalnya mengaji bagi yang beragama Islam, menurut Mendikbud, pihak sekolah bisa memanggil guru mengaji atau ustaz dengan latar belakang dan rekam jejak yang sudah diketahui. Jika mengaji di luar, mereka dikhawatirkan akan diajari hal-hal yang menyimpang.

Menyinggung penerapan full day school dalam pendidikan dasar tersebut, mantan Rektor UMM itu mengatakan bahwa hal itu saat ini masih terus disosialisasikan di sekolah-sekolah, mulai di pusat hingga di daerah.

“Nantinya memang harus ada payung hukumnya, yakni peraturan menteri (permen). Namun, untuk saat ini masih sosialisasi terlebih dahulu secara intensif,” ujarnya.

Tidak Semua Orang Tua Bekerja

Terpisah, gagasan yang dilontarkan Mendikbud sontak ditanggapi beragam oleh masyarakat. Mereka pada umumnya menyatakan ketidaksetujuannya.

Ibu Indah (39), salah satunya. Saat diminta komentarnya, perempuan pekerja yang memiliki anak di salah satu SMP di bilangan Cipinang, Jakarta Timur, itu menilai alasan dibalik gagasan Mendikbud itu tidak masuk akal.

“Saya bekerja di kawasan Sudirman, Jakarta Selatan. Kalau alasannya agar bisa dijemput, lha untuk sampai ke lokasi sekolah anak saya saja tiap harinya rata-rata butuh waktu satu setengah jam,” katanya lewat pesan singkat kepada indeksberita.com, Selasa (9/8).

Menurutnya, dengan alasan itu, Mendikbud seolah-olah membayangkan bahwa seluruh orang tua bekerja.

“Kenyataannya kan nggak. Lebih banyak orang tua terutama ibu-ibunya tidak bekerja. Mereka justru senang kalau sekolah tidak terlalu lama menyita waktu anak-anaknya untuk bersama keluarga,” tambahnya.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait