Rabu, 17 Agustus 22

Ade Komarudin Legowo Terima ‘Pemecatan’ Dirinya

Ade Komarudin bersedia menerima surat penghentian dirinya sebagai Ketua DPR yang dikeluarkan Partai Golkar untuk diproses lebih lanjut melalui rapat paripurna DPR.

Akom, panggilan akrab Ade Komarudin, mengatakan dirinya benar-benar berusaha menunjukkan bisa menerima keputusan ‘pemecatan’ dirinya secara apa adanya. Bahkan dia meniru bahasa yang kerap disampaikan Presiden Joko Widodo ketika mengalami situasi yang tidak mengenakkan.

“Saya siap dan ikhlas. Saya tawakal kepada Allah SWT. Aku ra popo (saya tidak apa-apa). Sekali lagi, aku ra popo,” kata Akom, Senin (28/11) malam.

Dia lalu menyampaikan alasan-alasan filosofis kenapa menerima keputusan itu.

Pertama, bahwa jabatan adalah amanah dari Allah SWT, sebagai sebuah cara agar ada kesempatan berkontribusi terbaik kepada bangsa dan negara.

“Karenanya, kapanpun, Allah SWT akan memberikan atau mengambil amanah itu setiap saat, saya siap,” kata dia.

Kedua, bahwa dirinya akan siap berkorban bila demi kesatuan dan keutuhan NKRI. Menurutnya, situasi saat ini cenderung panas terkait penghormatan terhadap pluralisme dan kenakeragaman bangsa.

“Jadi demi keutuhan NKRI, saya harus siap,” imbuhnya.

Ketiga, Akom mengaku dirinya adalah orang yang taat kepada peraturan, termasuk peraturan organisasi di mana dirinya bernaung, yakni Partai Golkar. Sebagai kader, Akom mengaku ingin menempatkan keutuhan negara, keutuhan parpol, di atas kepentingan pribadi dan keluarga.

“Insya Allah saya patuh dan tunduk kepada semua aturan,” tandasnya.

Dewan Pengurus Pusat Partai Golkar dan Fraksi Partai Golkar memang sudah mengirimkan surat berisi pergantian Ketua DPR dari Ade menjadi Setya Novanto yang juga menjabat sebagai Ketua Umum DPP Partai Golkar saat ini.

Ade menjadi Ketua DPR di awal tahun ini, mengantikan Setya yang saat itu mengundurkan diri akibat terkena kasus etika terkait kisruh kasus ‘Papa Minta Saham’.

Belakangan, Mahkamah Kehormatan DPR merevisi keputusannya terkait kasus itu. Keputusan tersebut menjadi alasan Golkar mengembalikan Novanto sebagai Ketua DPR.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait