Sabtu, 10 Desember 22
Beranda Featured Ada Apa Dengan (Sultan) Jogja

Ada Apa Dengan (Sultan) Jogja

Ada Apa Dengan (Sultan) Jogja

Dalam sepekan ini ada dua berita baik dan buruk datang dari Yogyakarta. Kabar baik, pada 28 April lalu, dimulai pemutaran film Ada Apa Dengan Cinta 2 (AADC2) kemudian diikuti pemutaran film di tiga negara, Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam. Kabar baik lainnya, polisi dengan cepat mampu menangkap pelaku penyayatan tiga remaja yang meresahkan publik, dan menangkap pembunuh Feby, mahasiswa UGM. Kabar buruknya, polisi dalam pekan ini menurunkan citranya karena membubarkan kegiatan pemutaran film “Pulau Buru Tanah Air Beta” yang diadakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Dan, kabar lebih buruk lagi, Sultan Jogja mendukung pembubaran itu!

Tak ada film nasional yang kehadirannya ditunggu-tunggu oleh jutaan penontonnya. Tak ada film Indonesia yang kemunculannya disambut gegap gempita di media sosial. Ya film fenomenal itu adalah AADC2.

Ada banyak faktor mengapa AADC2 sukses. Selain cerita, bintang film, sutradara, juga promosi yang dilakukan selama setahun. AADC2 terbukti sukses, dalam sepekan telah membukukan 2 juta penonton. Banyak pengamat meramalkan AADC2 akan mampu mengalahkan dua film terlaris saat ini yaitu Ainun & Habibie dan Laskar Pelangi.

Kehebohan menyambut pemutaran AADC2 juga terjadi di media sosial. Salah satu yang paling menonjol adalah munculnya ribuan meme yang diunggah di Facebook, Twitter, dan Instagram. Tema meme bermacam-macam, dari masalah politik, seni, sampai masalah sosial. Simak tulisan di bawah ini yang menyertai gambar Cinta (Dian Sastrowardoyo) dan Rangga (Nicholas Saputra) bicara tentang presiden dan mantan presiden RI.

Cinta: “14 tahun lamanya, ngapain aja tuh Mega, SBY dan Jokowi?”
Rangga: “Please deh itu “Ada Apa Dengan Istana”
Cinta: “Aku serius tanya. Kamu jahat ga jawab”
Rangga: “Iya deh. Mega diam saja, tapi mempersiapkan pemimpin baru. SBY lumayan sibuk, bikin beberapa album dan buku. Cuma Jokowi yang kerja, kerjanya blusukan melulu!”

Masalah hubungan Indonesia-China terutama di bidang pembangunan infrasruktur juga menjadi bahan meme yang dikaitkan dengan dua pemain AADC2. Berikut ini dialognya.
Cinta : “Mengapa pekerja Tiongkok main bor lahan milik TNI AU di Halim untuk proyek KA Cepat?”
Rangga: “Cinta, 14 tahun ternyata kamu terus update kekinian. Itu dialog film baru “Ada Apa Dengan China” bintang utama Rini Sumarno.

Selain meme yang mengusung politik ada juga yang mengangkat masalah sosial. Simak dua meme bergambar Cinta dan Rangga dengan dialog di bawah ini.
Rangga: “14 tahun berpisah kok ga ada yang berhijab geng kalian?”
Cinta: “Rangga, film kita bukan “Ada Apa Dengan Ayat Ayat Cinta!”
Rangga “Aku serius…”
Cinta : “Tapi ada kok, tuh tante Melly Goeslaw”
Kejadian yang mendapat perhatian publik juga diangkat oleh pencipta meme, yaitu soal meninggalnya Mirna yang diduga diracun melalui minuman kopi oleh kawannya Jessica.
Rangga : Cinta, kok kamu berubah?
Jessica : Maaf mas, saya Jessica bukan Cinta.
Rangga : Mampus gua..
Meme yang mengangkat masalah pribadi sang pemain, yaitu Dian Sastrowardoyo juga beredar di dunia maya. Cermati tulisan percakapan pada sebuah handphone milik Dian Sastrowardoyo:
Cinta: Halo Rangga apakabar?
Rangga: Saya akan ke Jakarta bisa ketemu?
Cinta: Saya Indraguna Sutowo suami Cinta, ada perlu apa?
Rangga: Oh, nggak kok bang, Cuma nawarin MLM aja he he
Satu lagi meme yang mengangkat masalah pribadi Dian Sastrowardoy. Di dunia nyata kita mengetahui Dian Sastro adalah istri Indraguna Sutowo, putra Adiguna Sutowo, atau cucu Ibnu Sutowo, Presiden Direktur Pertamina era Soeharto. Simak meme di bawah ini.
Cinta : Apa yg kamu lakukan ke saya itu jahat
Rangga: Mertua kamu lebih jahat, lihat mas Piyu sekarang sampai cerai

Ada Apa Dengan (Sultan) Jogja:
Setelah pembubaran pemutaran film “Pulau Buru Tanah Air Beta” sebagai salah satu rangkaian kegiatan peringatan Hari Pers Sedunia, 3 Mei 2016 di kantor AJI, muncul status di akun Warta Sejuk berjudul: Sultan Jogja Suburkan Intoleransi
Tahukah anda mengapa kasus-kasus intoleransi dan kekerasan yang merampas kebebasan beragama/berkeyakinan, berpendapat dan berekspresi di Yogyakarta semakin menjamur? Sultan Yogya dan aparat tidak menindak pelaku-pelaku intimidasi dan kekerasan yang jelas-jelas meresahkan, justru menindas hak-hak warga yang menjalankan aktivitas damai.

Seorang penulis blok menulis status yang mengingatkan kegeraman kalangan seniman Jogja kepada Wali Kota Haryadi, beberapa tahun lalu. Haryadi sebagai wali kota sering menghilang di kantornya dengan alasan tak jelas. Para seniman saat itu membuat festival sindiran Festival Mencari Haryadi. Status ini disertai gambar kartun oleh Tommy Apriando. Gambar yang menunjukkan banyak kegiatan dibubarkan atau dilarang.

Festival Mencari Sultan:
Jogja tak lagi istimewa, karena sultan mulai abai toleransi. Jogja tak lagi Berhati Nyaman, karena polisi akrab dengan milisi. Jogja tak pantas lagi disebut Kota Budaya, karena kegiatan seni sering dilarang. Jogja tak pantas lagi sebagai Kota Pelajar, karena diskusi sering dibubarkan. Kemana sultan?
Sultan sebagai raja sekaligus gubernur mulai dipertanyakan integritasnya karena kian tahun kekerasan bernuansa SARA kian tinggi. DIY adalah provinsi kedua setelah Jawa Barat dalam hal tindakan kekerasan bernuansa SARA. Sesungguhnya pertanyaannya adalah Apa Apa Dengan (Sultan) Jogja? Mampukah sultan dan jajarannya menegakkan Jogja sebagai City of tolerance? Tak aneh juga kalau ada akun di Facebook yang menulis: Sultan, yang ngarso dalem lakukan kepada kami itu, j a h a t !
Namun, masalah Jogja ternyata tak hanya soal intoleransi, tetapi juga soal pembangunan fisik seperti hotel dan apartemen.

Cinta : “Kenapa banyak hotel dan apartemen di sini. bikin sumpek. Tak ada lagi seperti senandung Kla Project. Kota ini Berhenti Nyaman bukan Berhati Nyaman”
Rangga: “Cinta…. itu dialog ‘Ada Apa Dengan Jogja’. Tanya sana sama bakal calon wali kota Garin Nugroho!”
Garin Nugroho sendiri melalui akun @garinfilm menulis: Pendiaman pembubaran diskusi – seni oleh organisasi masyarakat yang berperan polisional menunjuk hilangnya rasa krisis berbangsa elit politik.