Jumat, 9 Desember 22
Beranda Featured 3 Bulan Terakhir, Ratusan Pasutri Kota Bogor Cerai

3 Bulan Terakhir, Ratusan Pasutri Kota Bogor Cerai

0

BOGOR – Lesunya ekonomi ternyata membawa dampak dalam rumah tangga. Kebutuhan yang makin meningkat tanpa diimbangi pendapatan yang cukup untuk keluarga menjadi latarbelakang retaknya rumah tangga. Ujungnya, perseteruan harus berakhir di Pengadilan Agama.

“Angka perceraian dimulai dari awal tahun 2016 hingga terkini April ini memang menunjukan pelonjakan luar biasa,” tukas Humas Pengadilan Agama (PA) Bogor, Syafuridin didampingi Panitera Muda, Yusuf saat diwawancarai indeksberita.com di kantornya, Jalan Abdullah Bin Nuh, Kamis (12/5/2016).

Secara rinci dia mengatakan, dimulai dari Januari 2016 lalu, putusan cerai pasangan suami istri (pasutri) di PA Bogor yang sudah berkekuatan hukum tetap yakni 34 akta cerai. Selanjutnya, pada Februari di tahun yang sama terjadi lonjakan hingga 109 akta cerai. Kemudian, Maret 137 akta cerai. Dan, terkini di bulan April yakni 105 akta cerai.

Dia mengungkapkan, lemahnya ekonomi rumah tangga sebagai penyebab merembet ke faktor lainnya. Sering cekcok karena kebutuhan istri membuat rumah tangga goyang dan akhirnya berpisah.

“Kebanyakan yang menggugat cerai itu istri. Sementara, perceraian yang disebabkan karena perselingkuhan atau orang ketiga sangat kecil. Demikian juga cerai talak yang dimohonkan pihak suami, jauh lebih kecil,” tuturnya.

Lalu, faktor apa saja yang membuat perpisahan pasutri? Pertama, perceraian terjadi pada pasutri kelas menengah ke bawah dengan gaya hidup yang tinggi. Kedua, cerai didominasi pasutri usia muda. Dan ketiga, yang bercerai mayoritas karena kesibukan pekerjaan.

“Faktor ekonomi juga membuat suami tergugat dinilai tidak bertanggung jawab oleh istri mereka. Namun, dari banyak kasus gugatan cerai yang masuk ke PA Bogor dari pihak istri, ada juga yang kemudian mencabut perkara dan berdamai,” ujarnya.

Gugatan perceraian, sebutnya, bukan hal yang mutlak. Sebab, masih ada upaya yang bisa dilakukan untuk memperbaiki masalah rumah tangga dengan mengajukan banding.

“Idealnya, akan lebih memilih jalan damai dalam rumah tangga. Sebab, perceraian itu bukan solusi. Jika masih diperbaiki, lebih baik diperbaiki,” kata Humas PA Bogor menyampaikan imbauan. (eko)